*DUA WAJAH WARTAWAN: YANG MEMULIAKAN PROFESI VS YANG MERUSAK CITRA PERS*
LAMTIM, SERGAP BUSER POST, 1 September 2026.
Profesi wartawan adalah pilar ke-4 demokrasi. Tugasnya menyampaikan fakta, mengawasi kekuasaan, dan menyuarakan rakyat kecil. Namun di lapangan, wajah wartawan kini terbagi dua: *ada yang mengharumkan nama pers, ada pula yang merusak citranya sendiri.*
WARTAWAN HEBAT: PENJAGA KEBENARAN*
Inilah wartawan yang bekerja sesuai Kode Etik Jurnalistik dan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
*Cirinya:*
– *Berimbang & Faktual* : Cek 2 sumber, tidak menyebarkan hoaks. Datang ke lokasi, lihat, dengar, baru tulis.
– *Bermartabat* : Tidak memeras narasumber. Tidak jual berita. ID Card dan kartu pers dipakai untuk meliput, bukan untuk menakut-nakuti.
– *Punya Integritas* : Siap dikritik, siap ralat jika salah. Tujuannya satu: kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi.
– *Solutif* : Memberitakan masalah rakyat kecil seperti kemarau, gagal panen, harga sembako. Bukan untuk sensasi, tapi untuk dicarikan solusi.
Mereka inilah yang membuat masyarakat percaya pada media. Keringatnya di lapangan, pulpennya untuk membela yang benar.
WARTAWAN “KALENG-KALENG”: PERUSAK CITRA PERS*
Sayangnya, oknum seperti ini masih ada dan merusak nama baik ribuan wartawan jujur lainnya.
*Cirinya:*
– *Berseragam Wartawan, Bermental Preman* : Datang ke kantor, proyek, atau desa bukan untuk liputan. Tapi untuk “minta jatah”, “amplop”, atau mengancam akan memberitakan keburukan.
– *Jual Berita & Bikin Hoaks* : Menulis tanpa fakta. Judul provokatif. Isi asal-asalan. Tujuannya hanya klik dan uang.
– *Tidak Punya Kompetensi* : Tidak tau kode etik. Tidak tau UU Pers. Yang penting pegang kamera dan ID Card.
– *Hanya Muncul Saat Ada Proyek* : Tidak pernah liput kegiatan sosial, tidak pernah membela rakyat. Hilang saat dibutuhkan, muncul saat ada “uangnya”.
Oknum seperti inilah yang membuat masyarakat antipati, membuat pejabat alergi wartawan, dan membuat profesi mulia ini dipandang sebelah mata.
Masyarakat berhak bertanya: “Wartawan dari media apa? Ada kartu pers? Tujuannya apa?”
Jangan takut. Wartawan yang benar tidak akan marah ditanya.
Mari jaga marwah profesi ini. Masih banyak masyarakat kecil yang butuh ketikan tinta wartawan untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan .Tinta kita adalah amanah. Jangan kotori dengan kepentingan pribadi. Ingat, satu oknum yang salah, 1000 wartawan baik yang kena getahnya.
*”Pers yang bebas adalah pers yang bertanggung jawab. Bukan pers yang kebal hukum.”*
*Reporter:*
*Muhamad Jahri*












