LAMPUNG TIMUR 19 juli 2026,
Di tengah gempuran budaya asing, kesenian Jaranan di Lampung Timur masih hidup. Bukan karena bantuan. Bukan karena pembinaan. Tapi karena warga masih cinta dan rela keluar uang sendiri.
Ironis.
Jaranan adalah identitas. Jaranan adalah warisan leluhur tanah Jawa di Bumi Tuwah Bepadan. Tapi sampai hari ini ,kurang nya perhatian Pemda Lampung Timur terhadap para pegiat Jaranan sangat terasa.
Tidak ada pelatihan. Kurang nya bantuan alat. Tidak ada panggung resmi. Kurang nya anggaran pembinaan yang jelas.
Acara ada kalau ada hajatan warga. Kostum tambal sulam. Kendang sudah retak. Barongan sudah lapuk. Tapi semangat penari dan pemusiknya tidak pernah mati.
*Pertanyaannya: Budaya siapa yang mau kita jaga kalau bukan budaya kita sendiri?*
Kami tidak minta gedung megah. Kami tidak minta dana miliaran.
Kami hanya minta Pemda Lamtim hadir. Bina. Ajak duduk bersama. Beri ruang dan perhatian.
Jangan sampai nanti Jaranan Lamtim justru lebih dikenal di luar daerah, sementara di rumah sendiri dianggap “tidak ada”.
Pemda boleh sibuk dengan proyek fisik dan beton. Tapi jangan lupakan membangun jiwa dan budaya masyarakatnya.
Karena daerah yang besar bukan hanya yang jalannya mulus. Tapi juga yang budayanya hidup.
Muhamad Jahri












