BeritaLampung Timur

*1 Suro di Sriminosari: Malam Muhasabah, Bukan Malam Mitos*

Avatar
124
×

*1 Suro di Sriminosari: Malam Muhasabah, Bukan Malam Mitos*

Sebarkan artikel ini

SRIMINOSARI, SERGAP BUSER* – Rabu, 17 Juni 2026. Saat jarum jam menunjuk 1 Muharam 1448 H, Desa Sriminosari, Kec. Labuhan Maringgai, Lampung Timur, kembali menggelar tradisi 1 Suro. Sebuah bukti bahwa di tengah gempuran modernisasi, kearifan lokal masih punya tempat.

 

Sudah saatnya meluruskan stigma. “Suro angker” adalah salah kaprah. Malam ini justru lahir dari gagasan besar Sultan Agung Mataram Islam abad ke-17. Beliau menyatukan kalender Hijriah dan Jawa. Tujuannya satu: mempersatukan umat. Karena itu, 1 Suro adalah simbol persatuan, bukan pertikaian.

 

Bagi masyarakat Jawa di Sriminosari, malam ini punya 3 ruh utama:

1. *Tirakat*: Berpuasa, lek-lekan, topo bisu. Melatih jiwa menahan hawa nafsu.

2. *Introspeksi*: Muhasabah. Menimbang amal setahun ke belakang sebelum melangkah setahun ke depan.

3. *Doa & Syukur*: Selamatan, kenduri, ziarah makam leluhur. Memohon keselamatan dan keberkahan.

 

Tradisi paling ikonik: bubur Suro merah-putih. Warna merah melambangkan keberanian menjalani hidup. Warna putih melambangkan kesucian hati. Filosofinya dalam: Jadilah berani, tapi jangan lupa suci.

 

“1 Suro ngajarin kita ngerem dulu sebelum mlaku. Di zaman serba cepat ini, momen berhenti sejenak buat evaluasi diri justru jadi barang langka,” kata salah satu tokoh budaya Sriminosari.

 

Maka, malam 1 Suro bukan malam paling mistis. Ini malam paling logis untuk manusia: berhenti, berdoa, dan memperbaiki diri.

 

Selamat Tahun Baru Islam 1448 H & Tahun Baru Jawa untuk seluruh warga Sriminosari dan Lampung Timur.

 

Muhamad Jahri*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *